Archive for August, 2010


Transparent  Butterfly (Absolutely gorgeous!)

It comes from Central America and  is found from Mexicoto Panama.

It is quite common in its zone, but  it not easy to find because of its transparent wings, which is a natural  camouflage mechanism.

A butterfly with transparent wings  is rare and beautiful.    As delicate as finely blown  glass, the presence of this rare tropical gem is used by rain forest  ecologists as an indication of high habitat quality and its demise  alerts them of ecological change.  Rivaling the refined beauty of a  stained glass window, the translucent wings of the Glasswing butterfly  shimmer in the sunlight like polished panes of turquoise, orange, green,  and red. All things beautiful do not have to be full of color to be  noticed: in life that which is unnoticed has the  most power.

Dongeng Marga Batak

Pada jaman dahulu kala, hiduplah serorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat.

Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang.

Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membutanya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan, kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa diantaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar “Wow, Siregar sekali hawanya”

katanya, berbeda dengan kampungnya yang Pangabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya.

Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun. Tampak di seberang, lautan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana, mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang diketemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di Hutahuruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.

Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh ular yang sangat besar. “Sinaga!” teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan.

Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan.

“Hm, biayanya Pangaribuan” kata sang tabib setelah memeriksa sejenak.

“itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?” tawar si Butet.

“Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil”.

“Jangan begitulah. Masa’ tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini? Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan?” “Baiklah, tapi pakai jarum Sitompul saja” sahut sang mantri agak kesel. “Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit nggak apa-apalah”.

Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara disemak-semak tiba-tiba berbunyi “Poltak!” keras sekali.

“Ada Sitomorang?” tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan

Terdengar suara pelan, “Situmeang“. “Sialan, cuma kucing.” desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen. Selesai berlatih, Butet pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesok harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruangan ujian dia membaca tulisan: “Harahap tenang! Ada ujian.

“Wah telat, emang udah jam Silaban sih”. Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil bernyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya “Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu!”

Butet, tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunya, “Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali?!”

Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejengan guru Pandapotan silatnya untuk selalu,

Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!

Nobita & Shizuka Wedding

After ice rain in South China

Amazing God’s Pharmacy

It’s been said that God first separated the salt water from the fresh, made dry land, planted a garden, made animals and  fish… All before making a human. He made and  provided what we’d need before we were born. These  are best & more powerful when eaten raw.   We’re such slow  learners…

God left us a great clue as to what foods  help what part of our  body!

God’s Pharmacy!  Amazing!

A  sliced Carrot looks like the human eye. The  pupil, iris and radiating lines look just like the human eye… And YES, science now shows carrots  greatly enhance blood flow to and function of the  eyes.

A  Tomato has four chambers and is red. The  heart has four chambers and is red. All of the research shows tomatoes  are loaded with lycopine and are indeed pure heart  and blood food.

Grapes hang in a cluster that has the shape of the heart. Each grape looks like a blood cell and all of the research today shows grapes are also profound  heart and blood vitalizing food.

A  Walnut looks like a little brain, a left and right hemisphere, upper cerebrums and lower cerebellums.  Even the wrinkles or folds on  the nut are just like the neo-cortex. We now know walnuts help develop more than three (3) dozen  neuron-transmitters for brain function.

Kidney Beans actually heal and help maintain kidney function and yes, they look exactly like the human kidneys.

Celery, Bok Choy, Rhubarb and many more look just like bones. These foods specifically target bone strength. Bones are 23% sodium and these foods are 23% sodium. If you don’t have enough sodium in your diet, the body pulls it from the bones, thus making them weak.  These foods replenish the skeletal needs of the body.

Avocadoes,  Eggplant and Pears target the health and function of the womb and cervix of the female – they look just like these organs. Today’s research shows that when a woman eats one avocado a week, it balances hormones, sheds unwanted birth weight, and prevents cervical cancers. And how profound is this?  It takes exactly nine (9) months to grow an avocado from blossom to ripened fruit. There are over 14,000 photolytic chemical constituents of nutrition in each one of these foods (modern science has only studied and named about 141 of them).

Figs are full of seeds and hang in twos when they grow.  Figs increase the mobility of male sperm and increase the numbers of Sperm as well to overcome male sterility.

Sweet Potatoes look like the pancreas and actually balance the glycemic index of diabetics.

Olives assist the health and function of the ovaries

Oranges, Grapefruits, and other Citrus fruits look just like the mammary glands of the female and actually assist the health of the breasts and the movement of lymph in and out of the breasts.

Onions look like the body’s cells. Today’s research shows onions help clear waste materials from all of the body cells. They even produce tears which wash the epithelial layers of the eyes. A working companion, Garlic, also helps eliminate waste materials and dangerous free radicals from the body.

Siap Bekerja Keras

SIAP BEKERJA KERAS

Bacaan Lukas 5 : 1 – 11

  

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (Lukas 5 : 5)

Dalam bacaan kita hari ini dapat dilihat bagaimana Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang yang akan diajak bekerja bersama dalam pelayanannya di dunia. Di tepi pantai danau Genesaret Dia memperhatikan para nelayan yang baru menepi dari melaut untuk menangkap Ikan yang sudah bekerja semalaman. Bagi Petrus dan teman-temannya, pekerjaan ini terasa semakin berat karena mereka tidak dapat menangkap seekor ikanpun, walaupun telah bekerja semalaman penuh. Pagi hari setelah bekerja semalaman, seharusnya mereka beristirahat di tempat tidur atau duduk santai di rumah, tetapi dikatakan “…..Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya (ayat2)…”. ada alasan para nelayan masih harus membasuh jalanya, karena pada saat digunakan, jala tersebut juga menangkap ganggang laut dan tanaman laut lainnya, kotoran inilah yang harus dibasuh dari jala tersebut. Karena jika tanaman ini menempel dan kering di jala, apabila dipergunakan lagi akan menjadi kurang baik. Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang ini karena mereka adalah orang yang siap bekerja keras, Ia akan memilih mereka untuk bekerja bersama-Nya.

            Dalam berbagai pekerjaan, Allah menghendaki orang yang sedia bekerja keras, apalagi dalam pelayanan. Benyamin Franklin seorang ilmuwan Amerika yang hidup tahun 1706 – 1790 mengatakan : “ Bekerja keraslah dengan anggapan bahwa engkau masih akan hidup 100 tahun lagi”.  Dimanapun kita bekerja, diperusahaan Sekuler, Guru, Pengusaha, Aparat Negara, bahkan dalam pelayanan Rohani, kita harus bekerja keras. Disiplin harus menjadi cara hidup, kemalasan sama dengan mencuri waktu bekerja kita. Mungkin di tempat kerja kita tidak ada yang secara khusus memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi ketahuilah bahwa semua orang bertanggung jawab kepada Tuhan. Siapapun kita dan apapun pekerjaan kita.

 

Renungkan : Apakah kita sudah bekerja secara maksimal dalam berbagai tugas dan tanggung jawab kita masing-masing ? (WS)

  

Doa hari ini : Tuhan ajarlah saya untuk senantiasa bekerja secara maksimal, dimanapun Engkau menempatkan saya, Amin

” God can’t stop loving you.”

Yes, I have loved you with an everlasting love; therefore with loving kindness I have drawn you. (Jeremiah 31:3..)

Berani Bermimpi!!

Jangan takut gagal sebelum mencoba !!

Jangan takut jatuh sebelum melangkah !!

Berani hadapi tantangan dan hal baru

Apa-apa yang dinilai tidak mungkin, sering kali karena belum pernah dicoba

 

 
 
 

Kesimpulan : cowo harus minta maap :P
 
 
 

 

From Zero to Hero

Sungguh luar biasa….  

Dari sini kita harus  sadar.. 

Kita jangan hanya  bermimpi punya cita-cita besar…. 

Tapi kita karus  melakukan sesuatu, apapun itu sekecil apapun tanpa kita sadari  itu lah jalan menuju kesuksesan….

Houtman Zainal  Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy  yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia.  Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur  Citibank sendiri berada di USA.

Sekitar tahun 60an Houtman  memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke  jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan  harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta  ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan  ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada  pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak  mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan  profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong  jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.  

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman  kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman  beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan  kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta.  Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan  berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai  kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja  memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman  menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita  dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad  yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah  nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai  mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia  ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti  dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman  menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang  asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.  

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja  dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di  Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank  bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang  Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam  sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan  ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan  lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya,  dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut  dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa  nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah  membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.  

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas  dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para  staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan  telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan  bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai  istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat  bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf  mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain  nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”.  Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan  dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi,  Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun  dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini  dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi  sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah  yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas  khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan  setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut  dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman  pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa  di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari  petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya  Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman  resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.  

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi  bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri.  Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan  dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah  seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman  pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat  sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu  Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau  bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi  hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo,  bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras.  Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah  membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya  pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam  kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil  Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan  pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali.  Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar  mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada.  Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai  istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa  Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.  

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang  diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik.  Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff  dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk  membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank  mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan  kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan  SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai  Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial.  Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama  OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.  Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya,  “jika masuk OB, ya  pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman  tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama  staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah  keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain.  Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena  materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam  memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang  haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan  pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah  meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya  tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai  Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai  jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan  puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank  sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak  mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan  saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk  sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya  berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai  jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia  pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur,  menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator  bagi banyak orang .

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.